Upaya menciptakan Relawan yang terlatih dalam memberikan Pertolongan Pertama

100_1045Langkah maju kembali dilakukan oleh PMI Daerah Sumut. Sebagai upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, PMI Daerah Sumut berkejasama dengan Konsorsium Pelayanan Ambulans (PMI, PM-Jerman, dan PM-Hongkong) melaksanakan Pelatihan Pertolongan Pertama (70 JPE) mulai tanggal 18-24 Mei 2009. Pelatihan ini diikuti oleh 29 peserta yang berasal dari 11 PMI Cabang Se-Sumut, yang sebelumnya telah diseleksi dan dinyatakan lulus karena telah memenuhi syarat yang ditentukan. Pelatihan ini menghadirkan 2 orang pelatih, yaitu Heriansyah – PMI Cabang Medan, dan dr.Tommi – Pelatih PMI bidang PP utusan PMI Pusat, serta 2 orang asisten pelatih yaitu Aidil dan Echi yang merupakan kru Ambulans PMI Cabang Medan.

Dalam arahannya ketika upacara pembukaan, Ketua PMI Daerah Sumut–Drs.Kasim Siyo, M.Si mengatakan bahwa ”PMI harus terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, salah-satunya adalah dengan menciptakan relawan-relawan yang tangguh dan profesional dalam memberikan pertolongan pertama”. Lebih lanjut beliau menghimbau kepada seluruh peserta agar ke depannya setelah menerima pelatihan ini, dapat menerapkan ilmunya baik dilingkungan keluarga, masyarakat, serta tentunya untuk PMI cabang masing-masing. Upacara pembukaan juga dihadiri oleh Wakabid Kesehatan & Transfusi darah – dr. Adli Lidya, DTM&H, Wakbid Pengembangan Organisasi – dr. Amir Husin Nasution, Kepala Markas Daerah – Ridha Yuanita Sutomo, Program Manajer Pelayanan Ambulans Sumut – dr. Elman Boy, dan lainnya.

Dalam interval waktu ± 1 minggu, peserta diberikan pemahaman bagaimana memberikan pertolongan pertama secara benar kepada korban, mulai dari teori, test peragaan individu, dan simulasi kasus yang ditujukan untuk menilai kerja kelompok. Pelatihan ini merupakan bentuk pelatihan teknik, oleh karenanya tanpa latihan yang kontinyu dan tindak lanjut dari Pengurus Cabang masing-masing, pelatihan ini tidak akan berdayaguna. Peserta dan Pengurus cabang harus dapat menemukan suatu formula yang tepat, agar keterampilan PP ini menjadi ciri khas dan tugas klasiknya PMI dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Setelah pelatihan ini, peserta diharapkan dapat melatih segenap unsur dan disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi cabang setempat, sekaligus mensosialisasikan Pelayanan Ambulans Gawat Darurat 118 kepada seluruh masyarakat.
Dari hasil yang diperoleh selama pelatihan, tidak semua peserta mampu menerima materi dengan baik. Dari 29 orang peserta, 3 orang diantaranya dinyatakan tidak lulus karena nilai akhirnya masih dibawah nilai standart yang telah ditetapkan PMI.

Seperti yang telah diutarakan di atas, berhasil atau tidaknya pelatihan ini bergantung pada masing-masing peserta. Apakah mereka terus berlatih dan mempraktikkan ilmu yang dimiliki dalam kehidupannya? Untuk kemudahan dalam berlatih, tentu dibutuhkan alat peraga seperti perlengkapan PP, boneka, tandu, dan lain sebagainya. Permasalahannya adalah tidak semua Cabang memiliki perlengkapan PP, untuk itu sangat diharapkan sekali bagi Pengurus Cabang dan Daerah untuk dapat memfasilitasi penyediaan peralatan ini.

Pelatihan Pertolongan Pertama ini harus terus dikembangkan, baik ditingkatkan Cabang, Daerah, maupun Pusat. PMI harus mampu menciptakan kader-kader baru sebagai pelatih pertolongan pertama. Hal ini merupakan salah-satu income yang menjanjikan bagi PMI, terbukti selama ini banyak pelatih-pelatih PMI yang diminta untuk melatih diberbagai perusahaan, LSM, dan masyarakat.

Semoga setiap unsur yang ada di PMI, baik Pengurus, Staf, maupun Relawan menyadari hal ini sebagai sesuatu kekuatan, dan kelebihan yang dapat memberdakan PMI dengan organisasi kemanusiaan lainnya. Semoga PMI tetap konsisten dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, dan semoga niat luhur ini mendapat dukungan dari semua pihak.

Viva PMI, Viva First Aider, SIAMO!
”Dunia kita.Aksi Anda”

Penulis:
- Ari Armawan (Staf Komunikasi dan Informasi)
- Herriansyah (Pelatih PP PMI Cabang Medan)

Tinggalkan Balasan